'Kita' yang tidak sempat

Saat kutuliskan kalimat pembuka ini, aku sedang benar-benar kehabisan kalimat untuk memulai tulisan, tulisan kedua setelah satu tahun lalu-tentangmu-. Aku sedang duduk pada posisi yang paling kusenangi dan membuatku merasa nyaman. Duduk di atas ranjang, menghadap keluar jendela, menikmati halaman asrama yang dikelilingi bukit-bukit. Ohiya, maaf aku lupa, mungkin kau akan heran membaca yang baru saja kutuliskan. Belum sempat aku mengabarimu bahwa sekarang aku sedang tidak berada di Makassar. Aku sedang berada di suatu daerah yang pernah menjadi tempat impianmu melanjutkan pendidikan. 

Kau tahu, aku sangat nyaman berada disini. Aku suka dengan suasana asramaku, dengan kamar jendela besar, lingkungan asrama yang bersih, halaman asrama yang asri dan dilengkapi  lapangan basket. Ah seandainya kau ada disini, setiap sore akan kupaksa kau untuk mengajariku bermain basket. Setiap pagi, aku dibangunkan oleh panggilan ayam dan kicau-kicau burung. Setiap malam kicau burung pulalah yang mengantarkanku pada lelap. Semenjak aku berada disini, aku jadi mencintai kicauan burung.
Entah kenapa, selalu saja seperti ini, di kepalaku malam itu kesepian dan sekarang kesepian sedang memutar ingatan yang berkisar padamu, ah suaramu, senyummu, tahi lalat di lehermu. Aku rindu.
Setiap mengingatmu tidak pernah lepas dari perihal janji. Dulu kau dan aku -anggap saja kita- pernah sepakat untuk tidak saling mengingkar janji. Aku percaya, kau juga. Kita saling percaya, tapi aku yang mengkhianati. Maaf.
            Baru saja playlist ku memutar “Yang Terlupakan” Iwan Fals. Ah aku merindukanmu Tuan. Kalimatmu kembali menghantuiku saat seseorang -dia yang kuanggap kakak, teman berbagi apa saja- mengingatkanku “Jaga sifat anak-anak yang ada dalam dirimu, terkadang ada hal yang hanya bisa terselesaikan dengan menggunakan sifat anak-anak”. Aku baru mengerti, mengapa kau bangga dengan sifat anak-anakmu yang begitu kubenci.
            Aku ingat, betapa aku membenci kalimat yang sering kau katakan “Aku ingin kita menjalin hubungan seperti anak-anak saja, aku mencintaimu dengan sifat kekanak-kanakanku, jangan terlalu dewasa, membosankan!”. Sekarang, aku baru paham maksud dari kalimatmu. Kau ingin mencintaiku dengan sifat kanak-kanakmu, karna anak-anak selalu mencintai dengan ketulusan tanpa penghianatan, begitukan maksudmu(?) dan aku yang sok dewasa dengan bodohnya menjauh karna hal itu.
            Sekarang aku rindu, rindu anak-anak yang ada dalam dirimu, ngeyelmu, candaanmu, dan saat pertama kali kau mengusap kepalaku bersama tawa yang meledak. Tuan, aku merindukanmu. Rindu dengan anak-anak dalam dirimu yang begitu tegar dalam penantiannya. Aku yang sok dewasa pergi meninggalkanmu dengan sejuta pertanyaanmu yang belum sempat kujawab. Maaf.
            Kita yang akhirnya tidak sempat menjadi kita yang semakin renggang setelah kudengar kau sedang dekat dengan seseorang, aku juga. Andai kita pernah menyempatkan diri untuk dapat menjadi kita, mungkin kita adalah dua orang yang akan selalu tertawa setiap harinya. Aku tahu, kau mampu membuatku selalu tertawa.
            Tuan aku merindukanmu, kuharap Tuhan menyampaikannya. Jaga kesehatan selama menempuh pendidikan. Kuharap kita bisa berteman baik seperti dulu lagi, seperti saat setelah insiden isengmu mengirim pesan di facebook. Tuan, aku merindukanmu.

Bersama do’a, kutitipkan rindu. Semoga kau baik-baik saja.
Selamat malam J


Semarang, 22 September 2015, 01.58 WIB

Komentar

Postingan Populer