Bisakah Kita Tinggalkan Saja?
Hujan lebat masih juga belum menemukan jenuhnya. Beradu dengan angin malam. Menerbangkan apa saja yang ada di hadapannya. Pun lamunanku, yang kemudian tersangkut di ranting pohon. Tentangmu. Masih tentangmu.
Sampai sepagi ini, aku masih terjaga, menatap buku-buku berserakan diatas meja, mendengar dengusan teman yang sudah sejak tadi terlelap. Suara hujan dan gemuruh angin. Petir tak mau kalah, menyambar-nyambar jendela kaca. Tanpa sengaja, juga menyambar lamunanku. Menjadi serakan keresahan. Kembali kudapati wajahmu pada serakannya.
Kegelisahan kemarin masih utuh. Seutuh kalimat-kalimat penjelasmu tentang "kita". Kufikir setelah kemarin aku dan kau sepakat memulainya dengan kata "kita" maka akan ada beratus-ratus, beribu-ribu, berjuta-juta, bahkan tak terhitung banyaknya lembaran yang masih akan menuliskan "jita" di dalamnya. Ternyata kita belum cukup siap untuk itu.
Hujan lagi-lagi masih setia memcumbui daun-daun di luar sana, tak terbendung derasnya. Dan 5 malam belakangan, di balik selimut hujan juga setia mencumbui wajah perempuanmu ini. Tak merasa bersalah kah kau meninggalkannya sendiri? Membiarkan hujan bermukim di matanya?
Aku tak menemukan satu alasanpun untuk memihak padamu perihal ini. Tapi aku akan mencoba untuk membelamu. Kau benar "kita" hanya akan bisa merealisasikan apa yang telah menjadi mimpi-mimpi "kita" hanya jika "kita" adalah sepasang sahabat. Sepasang sahabat. Bukan kekasih. S.A.H.A.B.A.T. Aku tak akan cukup kuat untuk menatap matamu. Dan kau selalu menginginkannya. Menemukan keempat mata kita pada satu titik yang sama. Menurutmu, dengan membalikkan keadaan, hal itu bisa terpenuhi. Kedua pasang mata seorang sahabat akan saling bertemu. Itu inginmu.
Sendu, sendu, sendu. Tuan ....
Tuan, matamy yang sendu, suaramu yang khas, tahi lalat di lehermu. Ah sudahlah, kau juga tak mau tau lagi tentang ini. Terimakasih tuan. Aku pergi.... dan akan kembali sebagai "sahabat". Namun seandainya hujan belum berhenti juga, kau takkan menemukanku sebagai apapun itu.
Tuan, aku ingin berdamai
Tapi sesak masih merajai
Terimakasih
Komentar
Posting Komentar